Sabtu, 06 April 2013

makalah alkohol


BAB 1
PENDAHULUAN


1.      LATAR BELAKANG

Pengertian Alkohol

Alkohol sering dipakai untuk menyebut etanol, yang juga disebut grain alcohol; dan kadang untuk minuman yang mengandung alkohol. Hal ini disebabkan karena memang etanol yang digunakan sebagai bahan dasar pada minuman tersebut, bukan metanol, atau grup alkohol lainnya. Begitu juga dengan alkohol yang digunakan dalam dunia famasi. Alkohol yang dimaksudkan adalah etanol. Sebenarnya alkohol dalam ilmu kimia memiliki pengertian yang lebih luas lagi.

Ø  isopropil alkohol (sec-propil alcohol, propan-2-ol, 2-propanol) H3C-CH(OH)-CH3, atau alkohol gosok
Ø  etilena glikol (etana-1,2-diol) HO-CH2-CH2-OH, yang merupakan komponen utama dalam antifreeze
Ø  gliserin (atau gliserol, propana-1,2,3-triol) HO-CH2-CH(OH)-CH2-OH yang terikat dalam minyak dan lemak alami, yaitu trigliserida (triasilgliserol)
Ø  Fenol adalah alkohol yang gugus hidroksilnya terikat pada cincin benzena
Alkohol digunakan secara luas dalam industri dan sains sebagai pereaksi, pelarut, dan bahan bakar. Ada lagi alkohol yang digunakan secara bebas, yaitu yang dikenal di masyarakat sebagai spirtus. Awalnya alkohol digunakan secara bebas sebagai bahan bakar. Namun untuk mencegah penyalahgunaannya untuk makanan atau minuman, maka alkohol tersebut didenaturasi. denaturated alcohol disebut juga methylated spirit, karena itulah maka alkohol tersebut dikenal dengan nama spirtus.




BAB 2
ALKOHOL
Dalam kimia, alkohol (atau alkanol) adalah istilah yang umum untuk senyawa organik apa pun yang memiliki gugus hidroksil (-OH) yang terikat pada atom karbon, yang ia sendiri terikat pada atom hidrogen dan/atau atom karbon lain.

v  Struktur

Gugus fungsional alkohol adalah gugus hidroksil yang terikat pada karbon hibridisasi sp3. Ada tiga jenis utama alkohol - 'primer', 'sekunder, dan 'tersier'. Nama-nama ini merujuk pada jumlah karbon yang terikat pada karbon C-OH. Etanol dan metanol (gambar di bawah) adalah alkohol primer. Alkohol sekunder yang paling sederhana adalah propan-2-ol, dan alkohol tersier sederhana adalah 2-metilpropan-2-ol.

v  Rumus kimia umum

Rumus kimia umum alkohol adalah CnH2n+1OH'

v  Penggunaan

Alkohol dapat digunakan sebagai bahan bakar otomotif. Ethanol dan methanol dapat dibuat untuk membakar lebih bersih dibanding gasoline atau diesel. Alkohol dapat digunakan sebagai antifreeze di radiator. Untuk menambah penampilan Mesin pembakaran dalam, methanol dapat disuntikan kedalam mesin Turbocharger dan Supercharger. Ini akan mendinginkan masuknya udara kedalam pipa masuk, menyediakan masuknya udara yang lebih padat.

v  Nama-nama untuk alkohol

Ada dua cara menamai alkohol: nama umum dan nama IUPAC.
Nama umum biasanya dibentuk dengan mengambil nama gugus alkil, lalu menambahkan kata "alkohol". Contohnya, "metil alkohol" atau "etil alkohol".
Nama IUPAC dibentuk dengan mengambil nama rantai alkananya, menghapus "a" terakhir, dan menambah "ol". Contohnya, "metanol" dan "etanol".

 

v  Sifat fisika

Gugus hidroksil mengakibatkan alkohol bersifat polar.

v  pH

Alkohol adalah asam lemah.

v  Metanol dan etanol

Dua alkohol paling sederhana adalah metanol dan etanol (nama umumnya metil alkohol dan etil alkohol) yang strukturnya sebagai berikut:
     H           H H
     |           | |
   H-C-O-H     H-C-C-O-H
     |           | |
     H           H H 
   metanol      etanol
Dalam peristilahan umum, "alkohol" biasanya adalah etanol atau grain alcohol. Etanol dapat dibuat dari fermentasi buah atau gandum dengan ragi. Etanol sangat umum digunakan, dan telah dibuat oleh manusia selama ribuan tahun. Etanol adalah salah satu obat rekreasi (obat yang digunakan untuk bersenang-senang) yang paling tua dan paling banyak digunakan di dunia. Dengan meminum alkohol cukup banyak, orang bisa mabuk. Semua alkohol bersifat toksik (beracun), tetapi etanol tidak terlalu beracun karena tubuh dapat menguraikannya dengan cepat.

v  Alkohol umum


·         Sifat-sifat fisik alkohol
Alkohol umumnya berwujud cair dan memiliki sifat mudah menguap (volatil) tergantung pada panjang rantai karbon utamanya (semakin pendek rantai C, semakin volatil). Kelarutan alkohol dalam air semakin rendah seiring bertambah panjangnya rantai hidrokarbon. Hal ini disebabkan karena alkohol memiliki gugus OH yang bersifat polar dan gugus alkil (R) yang bersifat nonpolar, sehingga makin panjang gugus alkil makin berkurang kepolarannya.
Reaktifitas alkohol diketahui dari berbagai reaksi seperti:
1. Reaksi Oksidasi Reaksi oksidasi alkohol dapat digunakan untuk membedakan alkohol primer, sekunder dan tersier. Alkohol primer akan teroksidasi menjadi aldehida dan pada oksidasi lebih lanjut akan menghasilkan asam karboksilat. Alkohol sekunder akan teroksidasi menjadi keton. Sedangkan alkohol tersier tidak dapat teroksidasi (Bagan 12.45).
bagan 12.45
Bagan 12.45. Reaksi oksidasi alkohol primer, sekunder dan tersier
2. Reaksi pembakaran Alkohol dapat dibakar menghasilkan gas karbon dioksida dan uap air dan energi yang besar. Saat ini Indonesia sedang mengembangkan bahan bakar alkohol yang disebut dengan Gasohol, seperti reaksi di bawah ini.
artikel 57
3. Reaksi esterifikasi Pembentukan ester dari alkohol dapat dilakukan dengan mereaksikan alkohol dengan asam karboksilat. Dalam reaksi ini akan dihasilkan air dan ester. Molekul air dibentuk dari gugus OH yang berasal dari karboksilat dan hidrogen yang berasal dari gigus alkohol. Mekanisme reaksi esterifikasi secara umum ditunjukan pada Gambar 12.46.
bagan 12.46
Bagan 12.46. reaksi esterifikasi antara alkanol dengan asam karboksilat
4. Reaksi dengan Asam Sulfat Pekat Reaksi alkohol dengan asam sulfat pekat akan menghasilkan produk yang berbeda tergantung pada temperatur pada saat reaksi berlangsung. Reaksi ini disederhanakan pada gambar 12.47.
bagan 12.47
Gambar 12.47. Reaksi alkohol dengan asam sulfat pekat
5. Reaksi dengan Halida (HX, PX3, PX5 atau SOCl2) Reaksi ini merupakan reaksi substitusi gugus OH dengan gugus halida (X). Reaksi disajikan dibawah ini :
artikel 58



BAB III
PEMBUATAN ALKOHOL

 

 

Metanol
Proses yang terpenting untuk pembuatan metanol adalah mereaksikan karbon monoksida dengan hidrogen dengan katalis khusus.
reaksi pembuatan etanol
Etanol
Pada awal pembuatan, etanol dihasilkan dari fermentasi sari buah-buahan dibawah pengaruh yeast. Reksi tersebut saat ini diketahui melibatkan enzim bertindak dalam mengkatalis perubahan gula menjai etanol dan CO2. nama enzim tersebut adalah zymase.

reaksi etanol secara zymase
Proses ini, etanol yang dihasilkan sekitar 12% dan untuk hasil yang murni dilakukan penyulingan.

Proses fermentasi menghasilkan etanol tidak bisa memenuhi kebutuhan yang ada di dunia, maka dilakukan proses pembuatan etanol secara industri dengan hidrasi etena.
reaksi pembuatan etanol dengan asam sulfat
Pembuatan etanol ini melibatkan etena dengan asam sulfat 98% untuk membentuk hasil antara etilhidrogen sulfat, yang kemudian bereaksi dengan air pada tahap kedua untuk menghasilkan alkohol.
Distilasi etanol dari larutannya dalam air selalu menghasilkan campuran yang mengandung etanol paling banyak 95%. Etanol murni yang biasa disebut alkohol mutlak dapat dibuat dengan beberapa cara, salah satunya pencampuran larutan etanol 95% dengan kapur tohor (CaO) yang bereaksi dengan air membentuk Ca(OH)2.

BAB IV
REAKSI-REAKSI PADA ALKOHOL
1. Reaksi Oksidasi
Alkohol primer (R-CH2OH)            Aldehida (R-CHO)           Asam karboksilat (R-COOH)
Alkohol sekunder (R-CHOH-R             Keton (R-CO-R)
Alkohol tersier (R3COH), tidak dapat dioksidasi
2. Reaksi dengan Na
Semua alkohol bereaksi dengan logam Na, menurut persamaan reaksi berikut :
2R-OH + 2Na –> 2R-ONa + H2
3. Reaksi dengan fosfortriklorida (PCl3)
Semua alkohol bereaksi dengan PCl3, menurut persamaan reaksi berikut :
3R-OH + PCl3 –> 3R-Cl + H3PO3
4. Reaksi dengan Asam Sulfat (H2SO4)
a.    Pada suhu sekitar 1300C terjadi penggabungan dua molekul alkohol menjadi eter (eterifikasi)
2R-OH                R-O-R + H2O
  1. Pada suhu sekitar 1800C terjadi eliminasi air dari alkohol membentuk suatu alkena
CH3-CH2-OH            CH2=CH2 + H2O





BAB V
KEGUNAAN ALKOHOL

            Bahan kimia beracun yang dalam suhu kamar (~32oC) berbentuk cair adalah merupakan bahan toksik yang paling dominan dan banyak jenisnya. Bahan toksik tersebut ada yang sifatnya mudah menguap dan menjadi gas toksik. Diantara bahan toksik cair tersebut dalam dosis yang kecil dan dalam larutan sering sengaja diminum oleh manusia yaitu alkohol. Alkohol dan derivatnya termasuk golongan bahan toksik karena dapat merusak jaringan terutama jaringan syaraf pusat. Bahan lain misalnya nitrat dan nitrit, target organ yang dirusak ialah sistem kardiovaskuler. Disamping itu ada lagi bahan yang termasuk logam yang dalam suhu kamar bersifat cair yaitu merkuri (Hg). Bahan racun ini juga menyebabkan toksik terutama juga pada sistem syaraf. Dari hal tersebut maka bahan racun bentuk cair ini jumlah dan jenisnya relatif banyak dan bahan cair ini juga sangat berpotensi untuk mencemari lingkungan maupun mengkontaminasi baham makanan.
Alkohol dan derivatnya
            Alkohol adalah derivat dari hidroksi yang mempunyai ikatan langsung maupun rantai cabang dari alifatik hidrokarbon. Bentuk rantai alkohol yang sering ditemukan adalah yang mengandung tiga gugus hidroksil dengan ikatan satu gugus hidroksi dalam satu rantai karbon. Sedangkan jenis alkohol lainnya ialah alkohol yang mengandung lebih dari satu gugus hidroksi dalam satu atom karbon. Jenis alkohol yang kedua inilah yang bersifat toksik yaitu ethanol (ethyl alkohol), methanol (methyl alkohol) dan isipropanol (isoprophyl alkohol). Pada umumnya semakin panjang rantai karbon maka semakin tinggi daya toksisitasnya. Tetapi ada kekecualian dalam teori ini ialah methanol lebih toksik daripada ethanol.
            Dihidroksi alkohol disebut juga glikol (dari asal kata glyc atau glyco yang artinya manis), ini mencerminkan rasa dari glikol yang terasa manis. Dihidroksi ethan disebut juga “ethylen glycol” adalah merupakan bentuk sederhana dari glikol. Etylen glikol ini juga merupakan cairan “anti beku”, dan juga merupakan cairan yang toksik. Glikol jenis lain ialah trihidroksipropan (prophylen glycol), cairan ini merupakan bentuk produk farmasi yang relatif tidak toksik.

 Etanol
            Etanol adalah bahan cairan yang telah lama digunakan sebagai obat dan merupakan bentuk alkohol yang terdapat dalam minuman keras seperti bir, anggur, wiskey maupun minuman lainnya. Etanol merupakan cairan yang jernih tidak berwarna, terasa membakar pada mulut maupun tenggorokan bila ditelan. Etanol mudah sekali larut dalam air dan sangat potensial untuk menghambat sistem saraf pusat terutama dalam aktifitas sistem retikular. Aktifitas dari etanol sangat kuat dan setara dengan bahan anastetik umum. Tetapi toksisitas etanol relatif lebih rendah daripada metanol ataupun isopropanol.
Mekanisme toksisitas
            Secara pasti mekanisme toksisitas etanol belum banyak diketahui. Beberapa hasil penelitian dilaporkan bahwa etanol berpengaruh langsung pada membran saraf neuron dan tidak pada sinapsisnya (persambungan saraf). Pada daerah membran  tersebut etanol mengganggu transport ion. Pada penelitian invitro menunjukkan bahwa ion Na+, K+- ATP ase dihambat oleh etanol. Pada konsentrasi 5 – 10% etanol memblok kemampuan neuron dalam impuls listrik, konsentrasi tersebut jauh lebih tinggi daripada konsentrasi etanol dalam sistem saraf pusat secara invivo.
            Pengaruh etanol pada sistem saraf pusat berbanding langsung dengan konsentrasi etanol dalam darah. Daerah otak yang dihambat pertama kali ialah sistem retikuler aktif. Hal tersebut menyebabkan terganggunya sistem motorik dan kemampuan dalam berpikir. Disamping itu pengaruh hambatan pada daerah serebral kortek mengakibatkan terjadinya kelainan tingkah laku. Gangguan kelainan tingkah laku ini bergantung pada individu, tetapi pada umumnya penderita turun daya ingatnya. Gangguan pada sistem saraf pusat ini sangat bervariasi biasanya berurutan dari bagian kortek yang terganggu dan merambat ke bagian medula (lihat Tabel 1).






Tabel 1. Gejala yang diakibatkan oleh toksisitas etanol
Gejala klinis
Konsentrasi alkohol dalam darah (%)
Bagian otak yang terkena
1.      Ringan.
-          Penglihatan menurun
-          Reaksi lambat
-          Kepercayaan diri meningkat
0,005 – 0,10
Lobus depan
2.      Sedang
-          Sempoyongan
-          Berbicara tidak menentu
-          Fungsi saraf motorik menurun
-          Kurang perhatian
-          Diplopia
-          Gangguan persepsi
-          Tidak tenang
0,15 – 0,30

Lobus parietal

Lobus ocipitalis



Serebellum
3.      Berat
-          Gangguan penglihatan
-          Depresi
-          stuppor
0,30 – 0,50

Lobus ocipitalis
Serebellum
Diencephalon
4.      Koma
- Kegagalan pernafasan
0,50
Medulla
Sumber: Gossel and Bricker, 1984



                       







Absorpsi
            Karena sifat etanol yang mudah larut dalam air dan lemak, penghantar listrik yang lemah, ukuran molekul yang relatif kecil, maka etanol mudah sekali masuk melalui membran sel dengan difusi. Alkohol mudah sekalit diabsorpsi melalui dinding gastrointestinal, terutama bila kondisi lambung yang kosong. Tetapi lokasi yang efisien dalam penyerapan etanol ialah didalam usus kecil dan kurang efisien di dalam lambung dan usus besar. Walaupun etanol mempunyai berat molekul yang kecil, agak lama etanol terlarut dalam lemak dan proses pelarutannya adalah secara difusi pasif. Ada beberapa faktor yang mempengaruhi proses absorpsi ini yaitu:
-          Kondisi lambung dalam keadaan kosong atau berisi. Hal ini sangat penting dalam pengaturan absorpsi alkohol. Pada lambung keadaan kosong, absorpsi sempurna terjadi dalam waktu 1 atau 2 jam, tetapi pada lambung keadaan berisi penuh makanan absorpsi terjadi sampai 6 jam.
-          Komposisi larutan etanol yang diminum. Minuman bir lebih lambat diabsorpsi dari pada anggur (wine) dan anggur lebih lambat daripada spiritus. Pada umumnya minuman keras yang mengandung karbon diabsorpsi lebih cepat, karena senyawa karbon dioksida (CO2) dapat mengambil alih isi lambung.
Distribusi
            Setelah diabsorpsi, alkohol kemudian didistribusikan kesemua jaringan dan cairan tubuh serta cairan jaringan. Keseimbangan terjadi diantara cairan jaringan, darah dan kompartemen jaringan itu sendiri. Disamping itu etanol sangat mudah sekali menembus jaringan otak dan plasenta. Akhir-akhir ini yang menjadikan perhatian adalah ibu hamil yang menjadi peminum minuman keras yang mengandung alkohol dan pengaruhnya terhadap fetus yang dikandungnya. Distribusi alkohol antara alveoler paru dengan darah sangat bergantung pada kecepatan difusi, tekanan gas dan konsetrasi alkohol dalam kapiler paru. Rasio distribusi antara alveoler paru dengan darah adalah 1:2100.
            Seorang peneliti Swedia mengembangkan metoda untuk memperkirakan jumlah alkohol yang diperlukan sehingga dapat terdeteksi dalam darah.
Formulanya adalah:
A=WrCT / 0,8
Dimana: A= etanol (ml) yang diminum
            W= berat badan (g)
            r= rasio distribusi etanol: pria= 0,68 dan wanita= 0,55
            CT= konsentrasi alkohol dalam darah
            0,8= berat jenis alkohol
r: dihitung dari persentase alkohol dalam tubuh dibagi persentase alkohol dalam darah
r= % alkohol dalam tubuh : % alkohol dalam darah
Penetapan rasio distribusi untuk pria = 0,68 dan wanita = 0,55, disebabkan karena wanita biasanya kurang kendungan airnya dalam tubuh, tetapi lebih besar kandungan jaringan lemaknya.
            Pada pria dengan berat badan sekitar 68,1 Kg meminum minuman keras sekitar 30 ml yang mengandung 50% etanol (whiskey) atau setara dengan 360 ml beer yang mengandung 5% etanol. Setelah semua diabsorpsi tubuh ternyata kandungan alkohol dalam darah ialah:
0,025% (2,5 mg%), perhitungaanya adalah sebagai berikut:
A=WrCT/0,8= 68,100X0,68X0,025% : 0,8= 11,58/0,8
A= sekitar 15 ml
            Sedangkan untuk memperkirakan kandungan alkohol dalam darah (KAD), untuk orang yang beratnya sekitar 150 pond, atau kandungan alkohol dalam minuman keras sekitar 50%, maka KAD menjadi cukup proporsional. Dengan formulasi dibawah ini akan dapat diperkirakan jumlah KAD maksimum.
150/bb X %EtOH/50 X Juml. Alk. Yang diminum (ons) X 0,025%= KADmaks
            Pada kasus overdosis teanol akut, kadang formula tersebut diatas sangat berguna untuk memperkirakan KAD dari si penderita, bilamana diketahui jumlah minuman keras yang diminum. Sehingga jumlah ini dapat diperkirakan dengan melihat gejala yang timbul dari si penderita (Walgreen, 1970).
Metabolisme
            Mengetahui proses metabolisme etanol sangat berguna untuk meramalkan atau menangani suatu kasus toksisitas etanol. Sekitar 90-98% etanol yang diabsorpsi dalam tubuh akan mengalami oksidasi oleh enzim. Biasanya sekitar 2-10% diekskresikan tanpa mengalami perubahan, baik melalui paru maupun ginjal. Sebagian kecil dikeluarkan melalui keringat, air mata, empedu, cairan lambung dan air ludah. Tetapi perlu diingat bahwa konsentrasi alkohol selalu sama dengan kandungan cairan jaringan atau disebut cairan tubuh.
            Proses oksidasi enzimatik etanol pertama terjadi dalam hati kemudian dalam ginjal. Proses metabolisme melibatkan tiga jenis enzim. Pada proses pertama etanol dioksidasi menjadi acetaldehyd oleh enzim “alkohol dehydrogenase” dan memerlukan kovaktor NAD (nicotinamid adenin dinucleotida). Enzim alkohol dehydrogenase dalam hati adalah enzim yang tidak spesifik, enzim ini juga mengubah alkohol primer lainnya menjadi aldehyd, begitu juga pada alkohol sekunder dan keton.
            Pada tahap kedua acealdehyd diubah menjadi asam asetat oleh enzim aldehyd dehydrogenase juga dibantu oleh kovaktor NAD. Tahap berikutnya diubah lagi menjadi acetyl coenzim A (CoA), yang kemudian CoA masuk kedalam siklus Krebs dan mengalami metabolisme menjadi CO2 dan H2O (Gambar 2.1).

C2H5OH + NAD+ alkohol-dehydrogenase(ADH)->CH3CHO +NADH
Etilalkohol---------------------------àacetaldehyd

CH3CHO + NAD+ aldehyd-dehydrogenase__àCH3COOH + NADH
Acetaldehyd-----------------------àasam asetat
                                                                        CoA
                                                            AsetylCoA
                                                                        àsiklus Krebs
                                                            CO2 H2O

Gambar 2.1. Proses biokimiawi metabolisme etanol

            Proses metabolisme etanol mengakibatkan terjadinya pengubahan NAD menjadi reduksi NAD (NADH). Hal tersebut menyebabkan penurunan rasio antara NAD:NADH di dalam hati, sehingga terjadi gangguan metabolisme karbohidrat (energi), karena intoksikasi dari etanol. Misalnya terjadinya gejala hipoglikemia setelah terjadi intoksikasi alkohol secara kronis ataupun akut. Walaupun terjadi gangguan metabolisme yang disebabkan  keracunan etanol sangat komplek, tetapi dapat diduga bahwa hambatan proses glukoneogenesis oleh etanol adalah akibat dari kekurangan NAD. Oleh sebab itu asam amino yang biasanya masuk kedalam jalur glikolisis dan siklus asam trikarboksilat (TCA) berubah kelain jalur. Sebagai akibatnya terjadi penurunan kandungan oksaloasetat dan pyruvat dan terjadi penimbunan laktat dan ketoasit. Juga terjadi reduksi dalam metabolisme gliserol yang mengakibatkan terjadinya penimbunan lemak didalam hati.
Gejala klinis
            Gejala yang menciri dari keracunan etanol sangat bervariasi dari yang sifatnya ringan yaitu ataxia (sempoyongan) sampai berat yaitu koma (tidak sadarkan diri). Pada intoksikasi yang berat, penderita menunjukkan gejala stuppor (tidak bereaksi) atau menjadi koma. Kulit teraba dingin, bau nafas tercium alkohol, suhu tubuh dan frekwensi nafas menurun, kadang denyut jantung meningkat. Kejadian koma karena keracunan alkohol biasanya KAD nya mencapai 300 mg% atau 0,3 %. Pada konsentrasi kurang dari 100 mg%, lobus frontal otak terpengaruh sehingga tidak berfungsi.
            Gejala subyektif termasuk peningkatan percaya diri “tidak mengikuti peraturan” dan daya penglihatan menurun. Bila KAD meningkat dari 0,1% menjadi 0,2%, lobus parietal otak terpengaruh. Pada kondisi tersebut terjadi penurunan daya syaraf motorik, bicara terbata-bata, tremor dan ataksia. Bila KAD mencapai 0,3% akan berpengaruh terhadap serebelum dan juga lobus osipitalis dan serebelum. Pada kondisi ini penderita akan terganggu keseimbangannya dan persepsinya. Bilamana KAD mencapai LD50 (sekitar 0,45-0,5%), penderita akan koma, pernafasan sesak, pembuluh darah tepi (perifer) tidak berfungsi. Pada konsisi tersebut bagian medula otak terpengaruh dan kondisi menjadi sangat kritis.
Pengobatan
            Pasien penderita intoksikasi yang berat, tubuhnya harus dijaga selalu hangat dan isi perut harus segera dikeluarkan. Prioritas pertama yang dilakukan ialah dengan pemvberian pernafasan buatan, diberikan infus 10-50% dextrosa secara intravena untuk menjaga kadar glukosa darah. Pemberian sodium bikarbonat cukup baik sebgai antidotum untuk mencegah terjadinya asidosis. Perlakuan hemodialisis diperlukan bila KAD mencapai 0,4%.


 Methanol
            Alkohol jenis ini mempunyai struktur paling sederhana, tetapi paling toksik pada manusia dibanding dengan jenis alkohol lainnya. Methanol secara luas digunakan pada industri, rumah tangga, pelarut cat, anti beku dan sebagai bahan bakar. Terjadinya keracunan pada orang biasanya karena sengaja diminum, atau produk yang mengandung methanol dan beberapa laporan terjadi keracunan melalui kulit maupun pernafasan.
            Keracunan methanol telah terjadi secara luas dan menyebabkan banyak kematian dan angka kesakitan (mortilitas dan morbiditas). Banyak kasus terjadi pada waktu terjadi peperangan. Kejadian akan bertambah banyak bilamana methanol akan digunakan sebagai bahan bakar dimasa yang akan datang.
            Kejadian methanol diminum karena erat  hubungannya dengan kemiripannya dengan ethanol, baik dalam penampilan, bau, maupun harganya yang murah. Disamping itu orang awam tidak begitu mengetahui bahwa methanol lebih berbahaya daripada ethanol. Dosis lethal sekitar 30 ml, tetapi telah dilaporkan dosis lethal dapat mencapai 500 ml, hal tersebut bergantung pada individu.
Mekanisme toksisitas methanol
            Methanol diabsorpsi dan didistribusikan keseluruh tubuh seperti pada ethanol. Methanol juga dimetabolisir oleh enzim yang sama seperti ethanol, tetapi laju metabolismenya menyebabkan lambatnya pengaruh toksisitasnya.
            Metabolisme metanol tidak bergantung pada konsentrasinya di dalam darah. Pada beberapa penelitian menunjukkan bahwa metanol dimetabolisme oleh enzim alkohol dehydrogenase menjadi formaldehyd dan asam format.
CH3OH alkohol dehydrogenase àCHCOHaldehyd dehydrogenaseàHCOOH
-------àCO2 + H2O
            Dalam proses metabolisme, methanol teroksidasi menjadi formaldehyd yang sangat toksik yaitu 33X lebih toksik daripada methanol. Formaldehyd sebagaian akan bereaksi dengan protein tubuh dan lainnya dioksidasi lebih lanjut. Tidak semua methanol mengalami metabolisme, tetapi sejumlah besar methanol mungkin dikeluarkan (diekskresi) tanpa terjadi perubahan melalui paru dan ginjal. Tetapi, metabolisme adalah merupakan reaksi yang sangat penting.
            Seperti halnya ethanol, methanol didistribusikan keseluruh organ yang proporsinya seimbang dengan air pada cairan jaringan. Hal inilah yang menunjukkan bahwa organ mata mengalami gangguan yang sangat besar walupun methanol yang masuk kedalam tubuh relatif kecil.
Gejala klinis toksisitas methanol
            Gejala diawali dengan menunjukkan tanda-tanda seperti intoksikasi ethanol, wlaupun gejalanya biasanya lebih ringan. Hal tersebut karena daya larutnya yang rendah terhadap lemak. Gejala yang terlihat ialah euphoria dan lemah otot. Kemudian diikuti dengan gejala nausea, muntah, sakit kepala, hilang ingatan, sakit perut yang sangat dan dapat disertai diaree, sakit punggung, kelesuan anggota gerak. Mata terlihat merah karena hiperemik.
            Pada keracunan methanol yang berat, pernafasan dan denyut jantung tertekan. Terjadi gejala asidosis dengan nafas perlahan dan dalam. Penderita akan mengalami koma dan kematian terjadi dengan cepat. Pada saat menjelang ajalnya penderita menunjukkan gejala konvulsi dan opithotonus.
            Pada saat methanol teroksidasi menjadi formaldehyd dan asam formiat, terjadi peningkatan konversi dari NAD+ menjadi NADH. Kelebihan NADH akan menjadi asam laktat, sehingga terjadi acidosis yang diakibatkan oleh keracunan methanol. Hal tersebut menyebabkan terbentuk dan terakumulasinya asam formiat dan asam laktat. Sebagai akibatnya terjadi pengikatan perbedaan anion (perbedaan antara total kation dan total anion). Pada kondisi normal selisih perbedaan tersebut adalah 18 mmoles/L (dihitung dari [Na++K+]-[Cl-+HCO3-], selisih tersebut dapat meningkat dua kali atau lebih diatas normal pada kondisi keracunan methanol.
            Terjadinya kerusakan bola mata sering terjadi pada keracunan methanol. Orang yang mengkonsumsi methanol sekitar 4 ml dapat menyebabkan kebutaan. Dilaporkan bahwa terjadi peristiwa kebutaan karena keracunan methanol sampai 6% pada tentara Amerika waktu perng dunia ke II. Kerusakan mata adalah suatu bentuk terjadinya kerusakan retina dan saraf optik yang mengalami degenerasi yang disebabkan oleh akumulai formaldehyd dan berkembang menjadi asidosis. Bila penderita dapat selamat, penderita akan mengalami buta total atau daya penglihatannya dapat terganggu selama berbulan-bulan.

Pengobatan toksisitas methanol
            Bermacam-macam obat untuk toksisitas methanol telah digunakan, yang kebanyakan obat berfokus untuk mengobati gejala asidosis. Asidosis ini harus diobati terlebih dulu karena dapat mengancam jiwa penderita. Gejala kerusakan yang parah pada mata sangat bergantung pada kecepatan menetralkan gejala asidosis ini. Infus dengan sodium bikarbonat segera harus dilakukan sampai pH urine menjadi normal kambali.
            Secara teoritis ethanol adalah merupakan antidotum spesifik terhadap toksisitas methanol, wlaupun efektifitasnya masih banyak dipelajari. Selama ethanol mempunyai daya gabung dengan alkohol dehydrogenase (ADH), dengan kekuatan 20 X lebih besar dari methanol, maka etanol merupakan pilihan utama sebagai substrat untuk enzim ADH tersebut. Ethanol diberikan secra oral atau melalui intra vena sesegera mungkin. Dosis pemberian ethanol dilakukan sampai mencapai kadar 0,1% dalam darah. Bila ethanol sudah cukup untuk mengurangi metabolisme methanol sehingga kadar metabolisme toksik methanol berkurang, maka secara keseluruhan dapat menurunkan daya toksisitas methanol. Pengobatan dengan ethanol ini harus dilakukan untuk selama satu minggu atau lebih sampai methanol dikeluarkan dari tubuh.
            Pengobatan dengan hemodialisis atau peritoneal dialisis juga dapat digunakan untuk mengeliminasi methanol. Dialisis ini dilakukan bila kadar methanol dalam darah mencapai lebih dari 50mg%, serta terus dilakukan sampai kadarnya kurang dari 20mg%
Obat lain yang juga dapat dipakai adalah:
·         Leucovorin kalsium: merupakan analog dari folat yang bertindak untuk metabolisme formaldehyd menjadi karbon dioksida melalui sistem : folat-dependent-enzim.
·         4-methyl pyrazole (4MP): Mempunyai daya hambat terhadap alkohol dehydrogenase.