BAB 1
PENDAHULUAN
1.
LATAR
BELAKANG
Pengertian Alkohol
Alkohol sering dipakai untuk menyebut etanol, yang juga disebut grain alcohol; dan kadang
untuk minuman yang mengandung alkohol. Hal ini
disebabkan karena memang etanol yang digunakan sebagai bahan dasar pada minuman
tersebut, bukan metanol, atau grup alkohol lainnya. Begitu juga dengan alkohol
yang digunakan dalam dunia famasi. Alkohol yang dimaksudkan adalah etanol.
Sebenarnya alkohol dalam ilmu kimia memiliki pengertian yang lebih luas lagi.
Ø
isopropil alkohol (sec-propil
alcohol, propan-2-ol, 2-propanol) H3C-CH(OH)-CH3, atau
alkohol gosok
Ø
etilena glikol
(etana-1,2-diol) HO-CH2-CH2-OH, yang merupakan komponen
utama dalam antifreeze
Ø
gliserin (atau gliserol, propana-1,2,3-triol) HO-CH2-CH(OH)-CH2-OH
yang terikat dalam minyak dan lemak alami, yaitu trigliserida (triasilgliserol)
Ø
Fenol adalah alkohol yang
gugus hidroksilnya terikat pada cincin benzena
Alkohol
digunakan secara luas dalam industri dan sains sebagai pereaksi, pelarut, dan bahan bakar. Ada lagi alkohol yang digunakan
secara bebas, yaitu yang dikenal di masyarakat sebagai spirtus. Awalnya alkohol
digunakan secara bebas sebagai bahan bakar. Namun untuk mencegah
penyalahgunaannya untuk makanan atau minuman, maka alkohol tersebut
didenaturasi. denaturated alcohol disebut juga methylated spirit, karena itulah
maka alkohol tersebut dikenal dengan nama spirtus.
BAB 2
ALKOHOL
Dalam
kimia, alkohol (atau alkanol)
adalah istilah yang umum untuk senyawa organik apa pun yang memiliki gugus hidroksil (-OH) yang terikat pada
atom karbon, yang ia sendiri terikat pada atom hidrogen dan/atau atom karbon lain.
v
Struktur
Gugus fungsional alkohol adalah gugus hidroksil
yang terikat pada karbon hibridisasi sp3. Ada tiga jenis utama
alkohol - 'primer', 'sekunder, dan 'tersier'. Nama-nama ini merujuk pada jumlah
karbon yang terikat pada karbon C-OH. Etanol dan metanol (gambar di bawah)
adalah alkohol primer. Alkohol sekunder yang paling sederhana adalah
propan-2-ol, dan alkohol tersier sederhana adalah 2-metilpropan-2-ol.
v Rumus kimia umum
Rumus
kimia umum alkohol adalah CnH2n+1OH'
v
Penggunaan
Alkohol dapat digunakan sebagai bahan bakar otomotif.
Ethanol dan methanol dapat dibuat untuk membakar lebih bersih dibanding gasoline
atau diesel. Alkohol dapat digunakan sebagai antifreeze di radiator.
Untuk menambah penampilan Mesin pembakaran dalam,
methanol dapat disuntikan kedalam mesin Turbocharger dan Supercharger. Ini akan mendinginkan masuknya
udara kedalam pipa masuk, menyediakan masuknya udara yang lebih padat.
v
Nama-nama
untuk alkohol
Ada
dua cara menamai alkohol: nama umum dan nama IUPAC.
Nama
umum biasanya dibentuk dengan mengambil nama gugus alkil,
lalu menambahkan kata "alkohol". Contohnya, "metil alkohol"
atau "etil alkohol".
Nama
IUPAC dibentuk dengan mengambil nama rantai alkananya, menghapus "a"
terakhir, dan menambah "ol". Contohnya, "metanol" dan
"etanol".
v Sifat fisika
v
pH
Alkohol
adalah asam lemah.
v
Metanol dan
etanol
Dua
alkohol paling sederhana adalah metanol dan etanol (nama umumnya metil
alkohol dan etil
alkohol) yang strukturnya sebagai berikut:
H H H
| | |
H-C-O-H H-C-C-O-H
| | |
H H H
metanol etanol
Dalam
peristilahan umum, "alkohol" biasanya adalah etanol atau grain
alcohol. Etanol dapat dibuat dari fermentasi buah
atau gandum dengan ragi.
Etanol sangat umum digunakan, dan telah dibuat oleh manusia selama ribuan
tahun. Etanol adalah salah satu obat
rekreasi (obat yang digunakan untuk bersenang-senang) yang paling tua
dan paling banyak digunakan di dunia. Dengan meminum alkohol cukup banyak,
orang bisa mabuk. Semua alkohol bersifat toksik (beracun),
tetapi etanol tidak terlalu beracun karena tubuh dapat menguraikannya dengan
cepat.
v
Alkohol umum
·
Sifat-sifat fisik alkohol
Alkohol umumnya berwujud cair dan memiliki sifat mudah menguap
(volatil) tergantung pada panjang rantai karbon utamanya (semakin pendek rantai
C, semakin volatil). Kelarutan alkohol dalam air semakin rendah seiring
bertambah panjangnya rantai hidrokarbon. Hal ini disebabkan karena alkohol
memiliki gugus OH yang bersifat polar dan gugus alkil (R) yang bersifat
nonpolar, sehingga makin panjang gugus alkil makin berkurang kepolarannya.
Reaktifitas alkohol diketahui dari berbagai reaksi seperti:
1. Reaksi Oksidasi Reaksi oksidasi alkohol dapat digunakan untuk
membedakan alkohol primer, sekunder dan tersier. Alkohol primer akan teroksidasi
menjadi aldehida dan pada oksidasi lebih lanjut akan menghasilkan asam
karboksilat. Alkohol sekunder akan teroksidasi menjadi keton. Sedangkan alkohol
tersier tidak dapat teroksidasi (Bagan 12.45).

Bagan 12.45. Reaksi oksidasi alkohol primer, sekunder dan tersier
2. Reaksi pembakaran Alkohol dapat dibakar menghasilkan gas karbon
dioksida dan uap air dan energi yang besar. Saat ini Indonesia sedang
mengembangkan bahan bakar alkohol yang disebut dengan Gasohol, seperti reaksi
di bawah ini.
3. Reaksi esterifikasi Pembentukan ester dari alkohol dapat
dilakukan dengan mereaksikan alkohol dengan asam karboksilat. Dalam reaksi ini
akan dihasilkan air dan ester. Molekul air dibentuk dari gugus OH yang berasal
dari karboksilat dan hidrogen yang berasal dari gigus alkohol. Mekanisme reaksi
esterifikasi secara umum ditunjukan pada Gambar 12.46.

Bagan 12.46. reaksi esterifikasi antara alkanol dengan asam
karboksilat
4. Reaksi dengan Asam Sulfat Pekat Reaksi alkohol dengan asam sulfat
pekat akan menghasilkan produk yang berbeda tergantung pada temperatur pada
saat reaksi berlangsung. Reaksi ini disederhanakan pada gambar 12.47.

Gambar 12.47. Reaksi alkohol dengan asam sulfat pekat
5. Reaksi dengan Halida (HX, PX3, PX5 atau SOCl2) Reaksi ini
merupakan reaksi substitusi gugus OH dengan gugus halida (X). Reaksi disajikan
dibawah ini :
BAB III
PEMBUATAN ALKOHOL
Metanol
Proses yang terpenting untuk pembuatan metanol adalah mereaksikan karbon monoksida dengan hidrogen dengan katalis khusus.
Proses yang terpenting untuk pembuatan metanol adalah mereaksikan karbon monoksida dengan hidrogen dengan katalis khusus.
Etanol
Pada awal pembuatan, etanol dihasilkan dari fermentasi sari buah-buahan dibawah pengaruh yeast. Reksi tersebut saat ini diketahui melibatkan enzim bertindak dalam mengkatalis perubahan gula menjai etanol dan CO2. nama enzim tersebut adalah zymase.
Pada awal pembuatan, etanol dihasilkan dari fermentasi sari buah-buahan dibawah pengaruh yeast. Reksi tersebut saat ini diketahui melibatkan enzim bertindak dalam mengkatalis perubahan gula menjai etanol dan CO2. nama enzim tersebut adalah zymase.
Proses ini, etanol yang dihasilkan sekitar 12% dan untuk hasil
yang murni dilakukan penyulingan.
Proses fermentasi menghasilkan etanol tidak bisa memenuhi kebutuhan
yang ada di dunia, maka dilakukan proses pembuatan etanol secara industri
dengan hidrasi etena.
Pembuatan etanol ini melibatkan etena dengan asam sulfat 98% untuk
membentuk hasil antara etilhidrogen sulfat, yang kemudian bereaksi dengan air
pada tahap kedua untuk menghasilkan alkohol.
Distilasi etanol dari larutannya dalam air selalu menghasilkan
campuran yang mengandung etanol paling banyak 95%. Etanol murni yang biasa
disebut alkohol mutlak dapat dibuat dengan beberapa cara, salah satunya
pencampuran larutan etanol 95% dengan kapur tohor (CaO) yang bereaksi dengan
air membentuk Ca(OH)2.
BAB IV
REAKSI-REAKSI PADA ALKOHOL
1. Reaksi Oksidasi
Alkohol primer (R-CH2OH)
Aldehida
(R-CHO) Asam
karboksilat (R-COOH)
Alkohol sekunder
(R-CHOH-R
Keton (R-CO-R)
Alkohol tersier (R3COH), tidak dapat dioksidasi
2. Reaksi dengan Na
Semua alkohol bereaksi dengan logam Na, menurut
persamaan reaksi berikut :
2R-OH + 2Na –>
2R-ONa + H2
3. Reaksi dengan
fosfortriklorida (PCl3)
Semua alkohol
bereaksi dengan PCl3, menurut persamaan reaksi
berikut :
3R-OH + PCl3 –>
3R-Cl + H3PO3
4. Reaksi dengan Asam
Sulfat (H2SO4)
a.
Pada suhu sekitar 1300C terjadi penggabungan dua
molekul alkohol menjadi eter (eterifikasi)
2R-OH
R-O-R + H2O
- Pada suhu
sekitar 1800C terjadi eliminasi air
dari alkohol membentuk suatu alkena
CH3-CH2-OH
CH2=CH2 + H2O
BAB V
KEGUNAAN
ALKOHOL
Bahan kimia beracun yang dalam suhu kamar (~32oC)
berbentuk cair adalah merupakan bahan toksik yang paling dominan dan banyak
jenisnya. Bahan toksik tersebut ada yang sifatnya mudah menguap dan menjadi gas
toksik. Diantara bahan toksik cair tersebut dalam dosis yang kecil dan dalam
larutan sering sengaja diminum oleh manusia yaitu alkohol. Alkohol dan
derivatnya termasuk golongan bahan toksik karena dapat merusak jaringan
terutama jaringan syaraf pusat. Bahan lain misalnya nitrat dan nitrit, target
organ yang dirusak ialah sistem kardiovaskuler. Disamping itu ada lagi bahan
yang termasuk logam yang dalam suhu kamar bersifat cair yaitu merkuri (Hg).
Bahan racun ini juga menyebabkan toksik terutama juga pada sistem syaraf. Dari
hal tersebut maka bahan racun bentuk cair ini jumlah dan jenisnya relatif
banyak dan bahan cair ini juga sangat berpotensi untuk mencemari lingkungan
maupun mengkontaminasi baham makanan.
Alkohol
dan derivatnya
Alkohol adalah derivat dari hidroksi yang mempunyai
ikatan langsung maupun rantai cabang dari alifatik hidrokarbon. Bentuk rantai
alkohol yang sering ditemukan adalah yang mengandung tiga gugus hidroksil
dengan ikatan satu gugus hidroksi dalam satu rantai karbon. Sedangkan jenis
alkohol lainnya ialah alkohol yang mengandung lebih dari satu gugus hidroksi
dalam satu atom karbon. Jenis alkohol yang kedua inilah yang bersifat toksik
yaitu ethanol (ethyl alkohol), methanol (methyl alkohol) dan isipropanol
(isoprophyl alkohol). Pada umumnya semakin panjang rantai karbon maka semakin
tinggi daya toksisitasnya. Tetapi ada kekecualian dalam teori ini ialah
methanol lebih toksik daripada ethanol.
Dihidroksi alkohol disebut juga glikol (dari asal kata
glyc atau glyco yang artinya manis), ini mencerminkan rasa dari glikol yang
terasa manis. Dihidroksi ethan disebut juga “ethylen glycol” adalah merupakan
bentuk sederhana dari glikol. Etylen glikol ini juga merupakan cairan “anti
beku”, dan juga merupakan cairan yang toksik. Glikol jenis lain ialah
trihidroksipropan (prophylen glycol), cairan ini merupakan bentuk produk
farmasi yang relatif tidak toksik.
Etanol
Etanol adalah bahan cairan yang telah lama digunakan
sebagai obat dan merupakan bentuk alkohol yang terdapat dalam minuman keras
seperti bir, anggur, wiskey maupun minuman lainnya. Etanol merupakan cairan
yang jernih tidak berwarna, terasa membakar pada mulut maupun tenggorokan bila
ditelan. Etanol mudah sekali larut dalam air dan sangat potensial untuk
menghambat sistem saraf pusat terutama dalam aktifitas sistem retikular.
Aktifitas dari etanol sangat kuat dan setara dengan bahan anastetik umum.
Tetapi toksisitas etanol relatif lebih rendah daripada metanol ataupun
isopropanol.
Mekanisme toksisitas
Secara pasti mekanisme
toksisitas etanol belum banyak diketahui. Beberapa hasil penelitian dilaporkan
bahwa etanol berpengaruh langsung pada membran saraf neuron dan tidak pada
sinapsisnya (persambungan saraf). Pada daerah membran tersebut etanol mengganggu transport ion.
Pada penelitian invitro menunjukkan bahwa ion Na+, K+-
ATP ase dihambat oleh etanol. Pada konsentrasi 5 – 10% etanol memblok kemampuan
neuron dalam impuls listrik, konsentrasi tersebut jauh lebih tinggi daripada
konsentrasi etanol dalam sistem saraf pusat secara invivo.
Pengaruh etanol pada sistem saraf pusat berbanding
langsung dengan konsentrasi etanol dalam darah. Daerah otak yang dihambat
pertama kali ialah sistem retikuler aktif. Hal tersebut menyebabkan
terganggunya sistem motorik dan kemampuan dalam berpikir. Disamping itu
pengaruh hambatan pada daerah serebral kortek mengakibatkan terjadinya kelainan
tingkah laku. Gangguan kelainan tingkah laku ini bergantung pada individu,
tetapi pada umumnya penderita turun daya ingatnya. Gangguan pada sistem saraf
pusat ini sangat bervariasi biasanya berurutan dari bagian kortek yang
terganggu dan merambat ke bagian medula (lihat Tabel 1).
Tabel 1. Gejala yang
diakibatkan oleh toksisitas etanol
|
Gejala
klinis
|
Konsentrasi
alkohol dalam darah (%)
|
Bagian
otak yang terkena
|
|
1. Ringan.
-
Penglihatan menurun
-
Reaksi lambat
-
Kepercayaan diri meningkat
|
0,005
– 0,10
|
Lobus
depan
|
|
2. Sedang
-
Sempoyongan
-
Berbicara tidak menentu
-
Fungsi saraf motorik menurun
-
Kurang perhatian
-
Diplopia
-
Gangguan persepsi
-
Tidak tenang
|
0,15
– 0,30
|
Lobus
parietal
Lobus
ocipitalis
Serebellum
|
|
3. Berat
-
Gangguan penglihatan
-
Depresi
-
stuppor
|
0,30
– 0,50
|
Lobus
ocipitalis
Serebellum
Diencephalon
|
|
4. Koma
-
Kegagalan pernafasan
|
0,50
|
Medulla
|
Sumber:
Gossel and Bricker, 1984

Absorpsi
Karena sifat etanol yang
mudah larut dalam air dan lemak, penghantar listrik yang lemah, ukuran molekul
yang relatif kecil, maka etanol mudah sekali masuk melalui membran sel dengan
difusi. Alkohol mudah sekalit diabsorpsi melalui dinding gastrointestinal,
terutama bila kondisi lambung yang kosong. Tetapi lokasi yang efisien dalam
penyerapan etanol ialah didalam usus kecil dan kurang efisien di dalam lambung
dan usus besar. Walaupun etanol mempunyai berat molekul yang kecil, agak lama
etanol terlarut dalam lemak dan proses pelarutannya adalah secara difusi pasif.
Ada beberapa faktor yang mempengaruhi proses absorpsi ini yaitu:
-
Kondisi lambung dalam keadaan kosong atau berisi. Hal ini
sangat penting dalam pengaturan absorpsi alkohol. Pada lambung keadaan kosong,
absorpsi sempurna terjadi dalam waktu 1 atau 2 jam, tetapi pada lambung keadaan
berisi penuh makanan absorpsi terjadi sampai 6 jam.
-
Komposisi larutan etanol yang diminum. Minuman bir lebih
lambat diabsorpsi dari pada anggur (wine) dan anggur lebih lambat daripada
spiritus. Pada umumnya minuman keras yang mengandung karbon diabsorpsi lebih
cepat, karena senyawa karbon dioksida (CO2) dapat mengambil alih isi
lambung.
Distribusi
Setelah diabsorpsi, alkohol
kemudian didistribusikan kesemua jaringan dan cairan tubuh serta cairan
jaringan. Keseimbangan terjadi diantara cairan jaringan, darah dan kompartemen
jaringan itu sendiri. Disamping itu etanol sangat mudah sekali menembus
jaringan otak dan plasenta. Akhir-akhir ini yang menjadikan perhatian adalah
ibu hamil yang menjadi peminum minuman keras yang mengandung alkohol dan
pengaruhnya terhadap fetus yang dikandungnya. Distribusi alkohol antara
alveoler paru dengan darah sangat bergantung pada kecepatan difusi, tekanan gas
dan konsetrasi alkohol dalam kapiler paru. Rasio distribusi antara alveoler
paru dengan darah adalah 1:2100.
Seorang peneliti Swedia mengembangkan metoda untuk
memperkirakan jumlah alkohol yang diperlukan sehingga dapat terdeteksi dalam
darah.
Formulanya adalah:
A=WrCT
/ 0,8
Dimana: A= etanol (ml) yang
diminum
W= berat badan (g)
r= rasio distribusi etanol: pria= 0,68 dan wanita= 0,55
CT= konsentrasi alkohol dalam darah
0,8= berat jenis alkohol
r: dihitung dari persentase
alkohol dalam tubuh dibagi persentase alkohol dalam darah
r=
% alkohol dalam tubuh : % alkohol dalam darah
Penetapan rasio distribusi
untuk pria = 0,68 dan wanita = 0,55, disebabkan karena wanita biasanya kurang
kendungan airnya dalam tubuh, tetapi lebih besar kandungan jaringan lemaknya.
Pada pria dengan berat badan sekitar 68,1 Kg meminum
minuman keras sekitar 30 ml yang mengandung 50% etanol (whiskey) atau setara
dengan 360 ml beer yang mengandung 5% etanol. Setelah semua diabsorpsi tubuh
ternyata kandungan alkohol dalam darah ialah:
0,025% (2,5 mg%),
perhitungaanya adalah sebagai berikut:
A=WrCT/0,8=
68,100X0,68X0,025% : 0,8= 11,58/0,8
A=
sekitar 15 ml
Sedangkan untuk memperkirakan kandungan alkohol dalam
darah (KAD), untuk orang yang beratnya sekitar 150 pond, atau kandungan alkohol
dalam minuman keras sekitar 50%, maka KAD menjadi cukup proporsional. Dengan
formulasi dibawah ini akan dapat diperkirakan jumlah KAD maksimum.
150/bb
X %EtOH/50 X Juml. Alk. Yang diminum (ons) X 0,025%= KADmaks
Pada kasus overdosis teanol akut, kadang formula tersebut
diatas sangat berguna untuk memperkirakan KAD dari si penderita, bilamana
diketahui jumlah minuman keras yang diminum. Sehingga jumlah ini dapat
diperkirakan dengan melihat gejala yang timbul dari si penderita (Walgreen,
1970).
Metabolisme
Mengetahui proses metabolisme etanol sangat berguna untuk
meramalkan atau menangani suatu kasus toksisitas etanol. Sekitar 90-98% etanol
yang diabsorpsi dalam tubuh akan mengalami oksidasi oleh enzim. Biasanya
sekitar 2-10% diekskresikan tanpa mengalami perubahan, baik melalui paru maupun
ginjal. Sebagian kecil dikeluarkan melalui keringat, air mata, empedu, cairan
lambung dan air ludah. Tetapi perlu diingat bahwa konsentrasi alkohol selalu
sama dengan kandungan cairan jaringan atau disebut cairan tubuh.
Proses oksidasi enzimatik etanol pertama terjadi dalam
hati kemudian dalam ginjal. Proses metabolisme melibatkan tiga jenis enzim.
Pada proses pertama etanol dioksidasi menjadi acetaldehyd oleh enzim “alkohol
dehydrogenase” dan memerlukan kovaktor NAD (nicotinamid adenin dinucleotida).
Enzim alkohol dehydrogenase dalam hati adalah enzim yang tidak spesifik, enzim
ini juga mengubah alkohol primer lainnya menjadi aldehyd, begitu juga pada
alkohol sekunder dan keton.
Pada tahap kedua acealdehyd diubah menjadi asam asetat
oleh enzim aldehyd dehydrogenase juga dibantu oleh kovaktor NAD. Tahap berikutnya
diubah lagi menjadi acetyl coenzim A (CoA), yang kemudian CoA masuk kedalam
siklus Krebs dan mengalami metabolisme menjadi CO2 dan H2O
(Gambar 2.1).
C2H5OH
+ NAD+ alkohol-dehydrogenase(ADH)->CH3CHO
+NADH
Etilalkohol---------------------------àacetaldehyd
CH3CHO
+ NAD+ aldehyd-dehydrogenase__àCH3COOH
+ NADH
Acetaldehyd-----------------------àasam asetat
AsetylCoA
CO2
H2O
Gambar
2.1. Proses biokimiawi metabolisme etanol
Proses metabolisme etanol mengakibatkan terjadinya
pengubahan NAD menjadi reduksi NAD (NADH). Hal tersebut menyebabkan penurunan
rasio antara NAD:NADH di dalam hati, sehingga terjadi gangguan metabolisme
karbohidrat (energi), karena intoksikasi dari etanol. Misalnya terjadinya
gejala hipoglikemia setelah terjadi intoksikasi alkohol secara kronis ataupun
akut. Walaupun terjadi gangguan metabolisme yang disebabkan keracunan etanol sangat komplek, tetapi dapat
diduga bahwa hambatan proses glukoneogenesis oleh etanol adalah akibat dari
kekurangan NAD. Oleh sebab itu asam amino yang biasanya masuk kedalam jalur
glikolisis dan siklus asam trikarboksilat (TCA) berubah kelain jalur. Sebagai
akibatnya terjadi penurunan kandungan oksaloasetat dan pyruvat dan terjadi
penimbunan laktat dan ketoasit. Juga terjadi reduksi dalam metabolisme gliserol
yang mengakibatkan terjadinya penimbunan lemak didalam hati.
Gejala
klinis
Gejala yang menciri dari
keracunan etanol sangat bervariasi dari yang sifatnya ringan yaitu ataxia
(sempoyongan) sampai berat yaitu koma (tidak sadarkan diri). Pada intoksikasi
yang berat, penderita menunjukkan gejala stuppor (tidak bereaksi) atau menjadi
koma. Kulit teraba dingin, bau nafas tercium alkohol, suhu tubuh dan frekwensi
nafas menurun, kadang denyut jantung meningkat. Kejadian koma karena keracunan
alkohol biasanya KAD nya mencapai 300 mg% atau 0,3 %. Pada konsentrasi kurang
dari 100 mg%, lobus frontal otak terpengaruh sehingga tidak berfungsi.
Gejala subyektif termasuk peningkatan percaya diri “tidak
mengikuti peraturan” dan daya penglihatan menurun. Bila KAD meningkat dari 0,1%
menjadi 0,2%, lobus parietal otak terpengaruh. Pada kondisi tersebut terjadi
penurunan daya syaraf motorik, bicara terbata-bata, tremor dan ataksia. Bila
KAD mencapai 0,3% akan berpengaruh terhadap serebelum dan juga lobus osipitalis
dan serebelum. Pada kondisi ini penderita akan terganggu keseimbangannya dan
persepsinya. Bilamana KAD mencapai LD50 (sekitar 0,45-0,5%), penderita akan
koma, pernafasan sesak, pembuluh darah tepi (perifer) tidak berfungsi. Pada
konsisi tersebut bagian medula otak terpengaruh dan kondisi menjadi sangat
kritis.
Pengobatan
Pasien penderita intoksikasi yang berat, tubuhnya harus
dijaga selalu hangat dan isi perut harus segera dikeluarkan. Prioritas pertama
yang dilakukan ialah dengan pemvberian pernafasan buatan, diberikan infus
10-50% dextrosa secara intravena untuk menjaga kadar glukosa darah. Pemberian
sodium bikarbonat cukup baik sebgai antidotum untuk mencegah terjadinya
asidosis. Perlakuan hemodialisis diperlukan bila KAD mencapai 0,4%.
Methanol
Alkohol jenis ini mempunyai struktur paling sederhana,
tetapi paling toksik pada manusia dibanding dengan jenis alkohol lainnya.
Methanol secara luas digunakan pada industri, rumah tangga, pelarut cat, anti
beku dan sebagai bahan bakar. Terjadinya keracunan pada orang biasanya karena
sengaja diminum, atau produk yang mengandung methanol dan beberapa laporan
terjadi keracunan melalui kulit maupun pernafasan.
Keracunan methanol telah terjadi secara luas dan
menyebabkan banyak kematian dan angka kesakitan (mortilitas dan morbiditas).
Banyak kasus terjadi pada waktu terjadi peperangan. Kejadian akan bertambah
banyak bilamana methanol akan digunakan sebagai bahan bakar dimasa yang akan
datang.
Kejadian methanol diminum karena erat hubungannya dengan kemiripannya dengan
ethanol, baik dalam penampilan, bau, maupun harganya yang murah. Disamping itu
orang awam tidak begitu mengetahui bahwa methanol lebih berbahaya daripada
ethanol. Dosis lethal sekitar 30 ml, tetapi telah dilaporkan dosis lethal dapat
mencapai 500 ml, hal tersebut bergantung pada individu.
Mekanisme
toksisitas methanol
Methanol diabsorpsi dan
didistribusikan keseluruh tubuh seperti pada ethanol. Methanol juga
dimetabolisir oleh enzim yang sama seperti ethanol, tetapi laju metabolismenya
menyebabkan lambatnya pengaruh toksisitasnya.
Metabolisme metanol tidak bergantung pada konsentrasinya
di dalam darah. Pada beberapa penelitian menunjukkan bahwa metanol
dimetabolisme oleh enzim alkohol dehydrogenase menjadi formaldehyd dan asam
format.
CH3OH
alkohol dehydrogenase àCHCOHaldehyd
dehydrogenaseàHCOOH
-------àCO2 +
H2O
Dalam proses metabolisme, methanol teroksidasi menjadi
formaldehyd yang sangat toksik yaitu 33X lebih toksik daripada methanol.
Formaldehyd sebagaian akan bereaksi dengan protein tubuh dan lainnya dioksidasi
lebih lanjut. Tidak semua methanol mengalami metabolisme, tetapi sejumlah besar
methanol mungkin dikeluarkan (diekskresi) tanpa terjadi perubahan melalui paru
dan ginjal. Tetapi, metabolisme adalah merupakan reaksi yang sangat penting.
Seperti halnya ethanol, methanol didistribusikan
keseluruh organ yang proporsinya seimbang dengan air pada cairan jaringan. Hal
inilah yang menunjukkan bahwa organ mata mengalami gangguan yang sangat besar
walupun methanol yang masuk kedalam tubuh relatif kecil.
Gejala
klinis toksisitas methanol
Gejala diawali dengan menunjukkan tanda-tanda seperti
intoksikasi ethanol, wlaupun gejalanya biasanya lebih ringan. Hal tersebut
karena daya larutnya yang rendah terhadap lemak. Gejala yang terlihat ialah
euphoria dan lemah otot. Kemudian diikuti dengan gejala nausea, muntah, sakit
kepala, hilang ingatan, sakit perut yang sangat dan dapat disertai diaree,
sakit punggung, kelesuan anggota gerak. Mata terlihat merah karena hiperemik.
Pada keracunan methanol yang berat, pernafasan dan denyut
jantung tertekan. Terjadi gejala asidosis dengan nafas perlahan dan dalam.
Penderita akan mengalami koma dan kematian terjadi dengan cepat. Pada saat
menjelang ajalnya penderita menunjukkan gejala konvulsi dan opithotonus.
Pada saat methanol teroksidasi menjadi formaldehyd dan
asam formiat, terjadi peningkatan konversi dari NAD+ menjadi NADH. Kelebihan
NADH akan menjadi asam laktat, sehingga terjadi acidosis yang diakibatkan oleh
keracunan methanol. Hal tersebut menyebabkan terbentuk dan terakumulasinya asam
formiat dan asam laktat. Sebagai akibatnya terjadi pengikatan perbedaan anion
(perbedaan antara total kation dan total anion). Pada kondisi normal selisih
perbedaan tersebut adalah 18 mmoles/L (dihitung dari [Na++K+]-[Cl-+HCO3-],
selisih tersebut dapat meningkat dua kali atau lebih diatas normal pada kondisi
keracunan methanol.
Terjadinya kerusakan bola mata sering terjadi pada
keracunan methanol. Orang yang mengkonsumsi methanol sekitar 4 ml dapat
menyebabkan kebutaan. Dilaporkan bahwa terjadi peristiwa kebutaan karena
keracunan methanol sampai 6% pada tentara Amerika waktu perng dunia ke II.
Kerusakan mata adalah suatu bentuk terjadinya kerusakan retina dan saraf optik
yang mengalami degenerasi yang disebabkan oleh akumulai formaldehyd dan
berkembang menjadi asidosis. Bila penderita dapat selamat, penderita akan
mengalami buta total atau daya penglihatannya dapat terganggu selama
berbulan-bulan.
Pengobatan
toksisitas methanol
Bermacam-macam obat untuk
toksisitas methanol telah digunakan, yang kebanyakan obat berfokus untuk
mengobati gejala asidosis. Asidosis ini harus diobati terlebih dulu karena
dapat mengancam jiwa penderita. Gejala kerusakan yang parah pada mata sangat
bergantung pada kecepatan menetralkan gejala asidosis ini. Infus dengan sodium
bikarbonat segera harus dilakukan sampai pH urine menjadi normal kambali.
Secara teoritis ethanol adalah merupakan antidotum
spesifik terhadap toksisitas methanol, wlaupun efektifitasnya masih banyak
dipelajari. Selama ethanol mempunyai daya gabung dengan alkohol dehydrogenase
(ADH), dengan kekuatan 20 X lebih besar dari methanol, maka etanol merupakan
pilihan utama sebagai substrat untuk enzim ADH tersebut. Ethanol diberikan
secra oral atau melalui intra vena sesegera mungkin. Dosis pemberian ethanol
dilakukan sampai mencapai kadar 0,1% dalam darah. Bila ethanol sudah cukup
untuk mengurangi metabolisme methanol sehingga kadar metabolisme toksik
methanol berkurang, maka secara keseluruhan dapat menurunkan daya toksisitas
methanol. Pengobatan dengan ethanol ini harus dilakukan untuk selama satu
minggu atau lebih sampai methanol dikeluarkan dari tubuh.
Pengobatan dengan hemodialisis atau peritoneal dialisis
juga dapat digunakan untuk mengeliminasi methanol. Dialisis ini dilakukan bila
kadar methanol dalam darah mencapai lebih dari 50mg%, serta terus dilakukan
sampai kadarnya kurang dari 20mg%
Obat lain yang juga dapat
dipakai adalah:
·
Leucovorin kalsium: merupakan analog dari folat yang
bertindak untuk metabolisme formaldehyd menjadi karbon dioksida melalui sistem
: folat-dependent-enzim.
·
4-methyl pyrazole (4MP): Mempunyai daya hambat terhadap
alkohol dehydrogenase.


